Minggu, 19 Februari 2012


pendidikian nilai nilai kehidupan menuju bangsa yang bermartabat dan berbudaya


Awal penjajahan
Dalam pandangan umum dunia dibagi menjadi dua kekuatan, yaitu dunia Timur dan dunia Barat, dua dunia yang tidak lain adalah saudara kembar. Dua dunia ini, menurut Rudyard Kipling, dalam puisi "East is East and West is West," tidak akan mungkin dipersatukan. Dunia Timur akan berjalan sendiri, dan dunia Barat akan berjalan sendiri pula, dan dua saudara kembar ini, sampai kapan pun, bahkan sampai terompet kiamat ditiup pun, akan tetap terpisah:
Oh, East is East and West is West, and never the Twain shall meet, Till Earth and Sky stand presently at God's great Judgment's seat.
Hipotesis Rudyard Kipling telah dibuktikan oleh E.M. Forster dalam novel A Passage to India: orang India sebagai representasi dunia Timur, Dokter Aziz, dan Cyril, orang Inggris sebagai representasi dunia Barat, benar-benar bertekad bulat untuk menjadi sahabat karib. Lalu, pada suatu hari, kedua orang ini naik kuda bersama-sama, menuju ke satu arah yang sama. Pada suatu titik tertentu dua kuda ini dengan senang hati berjalan berdampingan, namun setelah titik tertentu dilewati, kuda yang satu membelok ke timur, dan kuda kedua membelok ke barat. Dua penunggangnya berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengendalikan kuda masing-masing supaya dua kuda itu tetap berjalan berdampingan, tapi kedua kuda itu dengan sekuat tenaga memberontak. Akhirnya, kuda Dr. Aziz melaju kencang ke timur, dan kuda Cyril melaju kencang ke barat: secara simbolik, dua dunia ini tidak mungkin dipersatukan.
Dalam kehidupan sehari-hari keadaan yang sama pun dapat kita jumpai, misalnya di kantin-kantin berbagai universitas di Barat. Pada waktu makan siang, orang-orang Timur cenderung bergerombol dengan orang-orang Timur, dan orang-orang Barat cenderung bergerombol dengan orang-orang Barat. Maka kantin pun, sebagai tempat makan bersama antara mahasiswa-mahasiswa Barat dan Timur merepresentasikan sebuah simbol, bahwa dunia Timur dan dunia Barat sukar dipersatukan.
Sekarang, tengoklah kehidupan Robinson Crusoe, sebagaimana dituturkan oleh Daniel Defoe (16591731) dalam novel Robinson Crusoe (1719) versi asli, bukan versi yang sudah berkali-kali diterbitkan dalam buku-buku simplified atau abridged, dan bukan pula versi berbagai film berdasarkan novel aslinya. Robinson Crusoe adalah seorang petualang


ulung, dan telah berkali-kali berlayar dengan kapal-kapal besar ke berbagai bagian dunia, tapi, karena semangat petualangannya tidak pernah bisa dibendung, akhirnya dia berpetualang lagi ke kawasan-kawasan yang belum pernah dia tengok sebelumnya. Ketika kapalnya mendekati sebuah pantai di sebuah pulau yang tidak pernah ditengoknya, badai pun menyerang kapalnya, dan pecahlah kapal itu. Semua penumpang tewas, dan Robinson Crusoelah satu-satunya penumpang yang bisa selamat. Dia terlempar ke pantai, dan setelah beberapa hari tertengkurap di pantai, akhirnya dia pun berhasil bangkit kembali. Terpaksalah dia hidup sendirian, tanpa apa-apa, dan tanpa teman.
Terceritalah, pada suatu hari, ketika Robinson Crosoe sedang berjalan-jalan, dia melihat semak-semak di sebelah sana bergerak-gerak. Ternyata, di balik semak-semak itu ada manusia yang tidak sama dengaan Robinson Crusoe: Robinson Crusoe berkulit putih atau, menurut istilah populernya bule (white), sedangkan manusia itu berkulit berwarna (colored) seperti layaknya orang-orang non-Eropa.
Begitu melihat manusia berkulit berwarna ini, dengan serta merta Robinson Crusoe berkata dalam hati: "Aku akan jadikan manusia ini sebagai budakku. Dengan menjadikan dia budakku, aku bisa mendidiknya menjadi manusia yang lebih beradab. Karena kebetulan hari ini Jum'at, budak ini akan saya namakan Jum'at." Sementara itu, begitu melihat orang kulit putih bernama Robinson Crusoe, dengan serta merta pula manusia berkulit berwarna ini berkata dalam hati: "Aku sangat beruntung, hari ini dapat berjumpa dengan seorang Tuan. Akan aku hambakan diriku kepada Tuan ini. Semua perintah Tuanku akan aku laksanakan dengan penuh takzim."
Inilah perbedaan sikap mental orang Barat, dan ini pulalah sikap mental orang Timur. Ingat, Robinson Crusoe hanyalah sebuah tokoh fiksi dalam sebuah novel, dan karena itu, dalam realita sebetulnya tldak ada. Tapi, ingat pulalah, sebagaimana novel E.M. Forster A Passage to India, Robinson Crusoe dan Jum'at pada dasarnya merupakan representasi dari realita yang sebenarnya: kalau tidak ada sikap mental rendah diri, mana mungkin dengan "mudahnya" orang-orang kulit putih dapat menguasai sebagian besar negara di Asia dan sebagian besar negara di Afrika? Ingat pulatah, bahwa penjajahan orang-orang kulit putih terhadap orang-orang Asia bukan hanya berlangsung selama puluhan tahu, tapi, selama ratusan tahun. Memang benar orang-orang kulit putih mengalahkan orang-orang kulit berwarna di Asia dan di Afrika dengan kekuatan senjata, tapi pada hakikatnya persoalan sebenarnya tidak di sini. Persoalan yang sebenarnya adalah sikap mental: orang-orang kulit


putih  ingin  mendominasi orang-orang kulit berwarna, dan orang-orang kulit berwarna mengagung-agungkan orang-orang kulit putih.
Perlu diketahui pula, bahwa Robinson Crusoe adalah orang Inggris, dan dalam sejarah kolonialisme, bangsa Inggris telah menunjukkan kemampuannya sebagai rajanya penjajah. Wilayah jajahan Inggris paling luas disbanding wilayah jajahan bangsa-bangsa Eropa lain, dan bahasa Inggris tidak lain adalah bahasa internasional, dan derajatnya lebih tinggi dibanding dengan bahasa bangsa-bangsa penjajah lain. Dampak penjajahan Inggris pun, di antara dampak penjajah-penjajah lain, juga paling kompleks.
Mimicry
Negara-negara jajahan, baik di Asia maupun di Afrika sudah lama merdeka, dan karena itu, bangsa-bangsa jajahan dahulu sekarang sudah menjadi bangsa-bangsa merdeka, dengan pemerintahannya sendiri, undang-undang dasarnya sendiri, dan segala sesuatunya yang serba sendiri pula. Indonesia, sementara itu, bisa berbangga, karena berbeda dengan bangsa-bangsa lain bekas jajahan, kemerdekaan bagi Indonesia diperoleh melalui revolusi dan perang kemerdekaan, sedangkan bangsa-bangsa bekas jajahan memperoleh kemerdekaan karena diberi kemerdekaan oleh bekas penjajahnya.
Namun, benarkah sebagian bangsa-bangsa bekas jajahan itu sudah benar-benar merdeka? Untuk menjawab pertanyaan ini, tengoklah ejaan sebuah disiplin ilmu perihal berakhirnya penjajahan geografi yang diikuti oleh kemerdekaan formal bangsa-bangsa bekas jajahan. Disiplin ilmu ini dinamakan "post-colonial studies," atau "post/colonial studies," atau "postcolonial studies." Nama disiplin ilmu ini member kesan, bahwa antara jaman penjajahan pada jaman dahulu dan jaman kemerdekaan setelah masa penjajahan berlalu seolah-olah sama, seolah-olah identik, dan karena itu seolah-olah tidak ada perbedaaannya. Mengapakah nama disiplin ilmu pada waktu penjajahan masih berlangsung tidak dinamakan "colonial studies," dan mengapa disiplin ilmu mengenai masa setelah kemerdekaan tidak dinamakan "postcolonial studies"?
Seorang pakar dari India, Homi Bhabha namanya, mempunyai jawabannya mengenai sikap mental bangsa-bangsa Asia pada umumnya, dan seorang pakar berkulit hitam, Frantz Fanon namanya, mempunyai jawaban pula mengenai sikap mental bangsa-bangsa Afrika pada umumnya terhadap bangsa-bangsa bekas penjajah. Salah satu kunci di antara kunci-kunci jawaban iain dinamakan mimicry (sikap meniru-niru) oleh Homi Bhabha, dan jawaban Frantz Fanon dirangkum dalam buku BlackSkin, White Masks (Kulit Hitam Topeng Putih).
Tengoklah perempuan-perempuan cantik dan kaya yang banyak bergentayangan di mall-mall besar, lalu tengoklah rambut mereka, dan tengok pulalah kulit mereka. Rambut mereka dicat blonde, agar tampak seperti rambut orang bule, dan kulit mereka diolesi white cleansing agar tampak seperti kulit orang bule. Lalu tengok pulalah sinetron-sinetron kita: mayoritas actor dan aktresnya berkulit putih, sebab, kalau mereka berkulit sawo matang, dijamin sinetron mereka tidak akan laku. Mengapa? Karena kita pada umumnya tertimpa oleh penyakit mimicry, yaitu meniru-nirukan orang-orang kulit putih, karena kita, secara tidak langsung dan tidak sadar, mengakui bahwa orang-orang kulit putih lebi hebat daripada orang-orang kita sendiri. Sikap mental kita, pada hakikatnya, masih sama dengan dulu, yaitu sikap mental bangsa jajahan.
Di Afrika, sebagaimana dinyatakan oleh Frantz Fanon dan juga dalam karya Chinua Achebe, Things Fall Apart, disusul oleh A/o Longer at Ease, dan diakhiri dengan The Arrow of God, sikap mental bangsa-bangsa bekas jajahan pada umumnya di Afrika mirip dengan bangsa-bangsa bekas jajahan di Asia pada umumnya: kulit mereka tetap hitam (black skin), tapi mereka ibaratnya memakai topeng-topeng putih (white masks), sebagaimana yang tercermin dalam perilaku mereka yang ke-Barat-Barat-an.
Sebagaimana digambarkan oleh Chinua Achebe dalam triloginya, Things Fall Apart, No Longer at Ease, dan The Arrow ofGod, setelah masa kemerdekaan tiba, banyak pemuda-pemuda Afrika diberi kesempatan untuk melanjutkan studi di luar negeri. Apa perbuatan mereka setelah kembali? Berlagak sebagai orang-orang Barat, dan, akhirnya, korupsi. Hobi sebagian orang-orang terpelajar kita, kecuali berlagak ke-Barat-Barat-an, tidak lain adalah korupsi pula.
Ketergantungan bangsa-bangsa bekas jajahan bukan hanya dalam sikap meniru saja, tapi juga ketergantungan .dalam politik, ekonomi, dan dan kebudayaan. Kendati sudah melepaskan diri dari IMF, pada hakikatnya ekonomi kita masih banyak tergantung pada Barat. Pertamina hanya menggarap sekitar 14 % dari seluruh minyak yang dikeduk dari perut bumi Indonesia, selebihnya dikeduk oleh perusahaan-perusahaan asing. Berbagai tambang selain minyak di Indonesia yang masuk ke kas negara hanya sekitar 7 %, selebihnya masuk ke kas perusahaan-perusahaan asing pula (diskusi interaktif Radio El-Shinta, 12 Februari, 2012).
Politik kita pada hakikatnya juga masih berkibiat ke Barat, antara lain dalam system demokrasinya. Jatuh bangunnya pimpinan suatu negara sering tidak lepas pula dari campur-tangan negara-negara bekas penjajah. Sistem pendidikan kita, yaitu penjenjangan D(iploma), S(trata) 1, S2, dan S3 pada hakikatnya merupakan adopsi dari sistem pendidikan barat.


foto BERSAMA guru besar unesa Prof Dr Budi Dharma Ph.D dan sekretaris jurusan pgsd Drs Supriyono MM

Foto BERSAMA Sujiwo Tejo Budayawan dan sekretaris jurusan pgsd Drs Supriyono MM

  
Foto BERSAMA Sujiwo Tejo Budayawan










Sabtu, 22 Oktober 2011

TIDAK ADA SALAHNYA KULIAH SAMBIL BERWIRAUSAHA

kuliah merupakan hal yang wajib bila kita ingin memperbanyak ilmu pengetahuan,, tapi tidak ada salahnya jika mencoba usaha yang lagi populer di era masa kini yaitu warnet...  nah ini sdh qw eksperimenkan,,, lumayan labanya btw uang saku kuliah plus kita bisa belajar hidup mandiri dan memanajamen suatu usaha kecil,,,

Kamis, 01 September 2011

PENDIDIKAN AKAN memeberikan kita ilmu dan memuliakan kita hidup di dunia dan akhirat

GURU sangatlah relevan dalam membangun jati diri seseorang, apalagi anak anak usia dini khususnya anak yang menempuh pendidikan di sekolah dasar, maka dari itu meskipun kita bukan mahasiswa atau seorang calon guru, ilmu yang kita punya sangatlah bagus bila di kasihkan atau di sebarkan pada orang lain,,,, itulah yang menjadi dasar hidup saya, mengapa saya cinta akan pendidikan.....

Jumat, 29 April 2011

Guru, elemen yang terlupakan

Pendidikan Indonesia selalu gembar-gembor tentang kurikulum baru...yang katanya lebih oke lah, lebih tepat sasaran, lebih kebarat-baratan...atau apapun. Yang jelas, menteri pendidikan berusaha eksis dengan mengujicobakan formula pendidikan baru dengan mengubah kurikulum.

Di balik perubahan kurikulum yang terus-menerus, yang kadang kita gak ngeh apa maksudnya, ada elemen yang benar-benar terlupakan...Yaitu guru! Ya, guru di Indonesia hanya 60% yang layak mengajar...sisanya, masih perlu pembenahan. Kenapa hal itu terjadi? Tak lain tak bukan karena kurang pelatihan skill, kurangnya pembinaan terhadap kurikulum baru, dan kurangnya gaji. Masih banyak guru honorer yang kembang kempis ngurusin asap dapur rumahnya agar terus menyala.

Guru, digugu dan ditiru....Masihkah? atau hanya slogan klise yang sudah kuno. Murid saja sedikit yang menghargai gurunya...sedemikian juga pemerintah. banyak yang memandang rendah terhadap guru, sehingga orang pun tidak termotivasi menjadi guru. Padahal, tanpa sosok Oemar Bakri ini, tak bakal ada yang namanya Habibi.

Pendidikan Indonesia

Hallo semuanya,
Tulisan ini didedikasikan hanya untuk bangsa tercinta kita, yaitu Indonesia. Betapa semrawutnya kondisi saat ini tidak seharusnya menumpulkan harapan kita akan masa depan yang lebih baik. Tulisan ini tidak bermaksud menggurui ataupun menyalahkan. Kita bertukar pikiran hanya untuk mencari solusi terbaik, siapa tahu solusi ini bisa diimplementasikan dalam kondisi riil.
Tulisan, tanggapan, pengetahuan, artikel rekan-rekan sangat diharapkan sekali agar wawasan kita semua bertambah. Saya selaku pembuat blog ini sangat bisa jadi memiliki banyak kelemahan (seperti keahlian menulis yang masih amatiran!). mungkin ini semua bisa di-cover oleh rekan-rekan semuanya.
Ok, partisipasi rekan-rekan dalam blog inisangat dinantikan. Makasih banyak!

Diskriminasi Pendidikan

Diambil dari pendidikanmurah
---------------------------------------------------------------

Rasa-rasanya rasa muakku sudah sampai pada puncaknya.

Setelah membaca rubrik Humaniora di harianKompas edisi hari ini, aku menjadi semakin jengkelsaja dengan kebijakan sistem pendidikan di Indonesia yang kian lama kian wagu saja. Akhir-akhir ini rubrik Humaniora Kompas memang banyak menyoroti tentang kondisi pendidikan di Indonesia. Diawali dengan pemberitaan mengenai ide cemerlang dari salah seorang ketua RW di salah satu desa di Sala Tiga yang dengan kreatifnya menggagas sebuah sekolah alternatif untuk siswa SLTP dengan konsep sekolah terbukanya sampai pada kegilaan mungkin lebih tepat jika disebut kebodohan dari pemerintah mengenai rancangan sistem jalur pendidikan yang baru.

Dalam sistem pendidikan yang baru ini pemerintah akan membagi jalur pendidikan menjadi dua jalur besar, yaitu jalur formal standar dan jalur formal mandiri. Pembagian jalur ini berdasarkan perbedaan kemampuan akademik dan finansial siswa. Jalur formal mandiri diperuntukkan bagi siswa yang mapan secara akademik maupun finansial. Sedangkan jalur formal standar diperuntukkan bagi siswa yang secara finansial bisa dikatakan kurang bahkan tidak mampu.

Dengan kata lain jalur formal mandiri adalah jalur bagi siswa kaya sedangkan jalur formal standar adalah jalur bagi siswa miskin. Konyol memang. Aku sampai tidak habis pikir bisa-bisanya pendidikan dikotak-kotakkan berdasarkan tingkat fianansial dari peserta didik. Dalam hal ini, pemerintah berdalih bahwa pada jalur formal mandiri akan disediakan beasiswa bagi siswa yang kurang mampu miskin agar dapat menuntut ilmu pada jalur ini. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah Berapa banyak sich beasiswa yang disediakan?.

Pemerintah sendiri menyatakan bahwa setidaknya akan ada lima persen siswa miskin yang bersekolah di setiap sekolah yang menyelenggarakan jalur formal mandiri. Menurut ku ini juga merupakan salah satu bentuk kebodohan yang lain. Coba saja kita bayangkan seandainya ada seorang siswa miskin yang memperoleh beasiswa untuk bersekolah di jalur formal mandiri yang nota bene tempat sekolahnya siswa kaya. Bukankah kondisi seperti ini malah menjadikan siswa miskin ini menjadi minder dan rendah diri. Ketika teman-temannya selalu mengenakan seragam yang bersih dan tersetrika dengan rapi dengan menggunakan pelembut dan pewangi pakaian sedangakan siswa miskin ini hanya mampu mengenakan seragam bekas alias hibahan dari tetangganya, bukankah kondisi seperti ini malah menjadikan siswa miskin ini menjadi objek tontonan bagi siswa-siswa kaya?

Apakah pembagian jalur pendidikan ini merupakan salah satu misi pemerintah dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa?

Menurutku, pendidikan adalah satu-satunya jalan bagi bangsa kita dalam mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain. Aku cukup salut dengan pemerintah Kamboja dan Thailand yang mulai berbenah diri dengan berfokus pada pendidikan warga negaranya. Kedua negara ini mulai merintis pendidikan gratis bagi warga nya. Pemerintah Kamboja sendiri mulai mengalihkan sembilan belas persen dari total anggarannya yang biasanya digunakan sebagai angaran militer untuk mendukung pengembangan pendidikan.

Lantas bagai mana dengan visi dan misi pendidikan di Indonesia? Mau dibawa ke mana pendidikan di Negara kita? Apakah pendidikan sudah menjadi barang dagangan yang nantinya menghasilkan outputan berupa selembar sertifikat dan ijazah bukannya keahlian dan daya analitis? Dan apakah pendidikan hanya menjadi milik dan hak orang kaya saja?

Apakah memang orang miskin dilarang sekolah?

Sabtu, 23 April 2011

kenang-kenangan dari sdn claket

“PENTINGNYA PENDIDIKAN BUDAYA LOKAL PADA SEKOLAH DASAR DALAM MEMBANGUN KARAKTER BANGSA KE DEPAN”

Pendidikan berangkat dari diri kita misalnya ; menghargai orang lain sebelum menghargai diri kita sendiri. Guru pada sekolah dasar sangat strategis dalam membangun karakter bangsa yang akan mendatang. Menyadari tugas yang sangat penting ini guru sekolah dasar seharusnya mempunyai karakter yang baik. Membangun bangsa lebih sulit dari pada membangun Negara. Contoh : perbedaan ras. Ilmu tanpa moral akan menghancurkan, karena moral merupakan hal karakteristik yang sangat intim dalam kehidupan, alangkah baiknya bila kita biasakan sebelum Bapak / Ibu Guru mengajar sebaiknya menyanyikan lagu2 yang mendidik anak – anak. Karena pada lagu tersebut ada hal yang mengandung pendidikan , dengan itulah secara tidak langsung sebagai pendidik kita telah melakukan pendidikan moral melalui lagu yang sesuai dengan umur mereka..Sebetulnya orang yang melanggar peraturan bisa di katakana binatang. Dengan rasionalitas orang membangun nilai dan moral.
     Budaya itu di ciptakan tetapi tidak di rasionalitaskan. Kebudayaan adalah respon dari masyarakat setiap kebudayaan ada pola berprilaku. Pembiasaan perlu di terapkan pada murid SD. Karena pada anak SD pembentukan karakter sangat sensitive, mengingat umur yang sangat dini. Membangun budaya janganlah di rumah sebaiknya di sekolah juga. Orang yang kaya bukanlah orang yang punya banyak uang banyak, tetapi orang yang kaya bisa juga kaya untuk member maaf. Dll……..
     Guru menjadi media yang sangat strategis untuk pendidikan karakter pada anak SD. Pembimbing moral, rasio, nurani itu terdapat pada diri kita. Orang itu di katakan menemukan bila tidak mencari,
     cara mengatasi problem pada ank – anak:
1.  Membangun keterbukaan pada anak – anak.
2.  Dan tidak ada yang di tutupi.

     Setiap pelajaran terdapat pelajaran karakter missal pelajaran matematika yaitu mempelajari tentang ketelitian. Guru yang baik adalah guru yang dekat dengan muridnya, dan guru itu bisa juga di jadikan sebagai konsultan, sahabat, orang tua, teman, Dll……….

     Sekolah full day berfokus pada anak berpendidikan hanya berlingkungan sekolah dan rumah karena untuk menghindari anak dari lingkungan yang tidak baik. Media elektronik sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter siswa. Sehingga sebaiknya media menontokan pertunjukkan yang baik – baik. Bila ingin mempunyai wibawa kita harus kembangkan karakter kita. Guru yang baik adalah guru yang adil yang tidak membedakan satu dengan yang lain. Jujur merupakan harta yang paling baik untuk memajukan kemajuan Negara ini.


By : @DI PGSD 2010
Fatkur_crosser@yahoo.com