pendidikian nilai nilai kehidupan menuju bangsa yang bermartabat dan berbudaya
Awal penjajahan
Dalam pandangan umum dunia dibagi menjadi dua kekuatan,
yaitu dunia Timur dan dunia Barat, dua dunia
yang tidak lain adalah saudara kembar. Dua dunia ini, menurut Rudyard Kipling, dalam puisi "East is East
and West is West," tidak akan mungkin dipersatukan. Dunia Timur akan berjalan sendiri, dan dunia Barat akan
berjalan sendiri pula, dan dua saudara kembar ini, sampai kapan pun,
bahkan sampai terompet kiamat ditiup pun, akan tetap terpisah:
Oh, East is East and West is West,
and never the Twain shall meet, Till Earth and Sky stand
presently at God's great Judgment's seat.
Hipotesis Rudyard Kipling telah dibuktikan oleh E.M.
Forster dalam novel A Passage to India: orang India sebagai representasi
dunia Timur, Dokter Aziz, dan Cyril, orang Inggris sebagai representasi dunia
Barat, benar-benar bertekad bulat untuk menjadi sahabat karib. Lalu, pada suatu
hari, kedua orang ini naik kuda bersama-sama, menuju ke satu arah yang sama. Pada suatu titik tertentu dua kuda ini dengan
senang hati berjalan berdampingan, namun
setelah titik tertentu dilewati, kuda yang satu membelok ke timur, dan kuda
kedua membelok ke barat. Dua
penunggangnya berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengendalikan kuda
masing-masing supaya dua kuda itu tetap berjalan berdampingan, tapi kedua kuda itu dengan sekuat tenaga memberontak.
Akhirnya, kuda Dr. Aziz melaju kencang ke
timur, dan kuda Cyril melaju kencang ke barat: secara simbolik, dua dunia ini
tidak mungkin dipersatukan.
Dalam kehidupan sehari-hari keadaan
yang sama pun dapat kita jumpai, misalnya di kantin-kantin berbagai universitas di Barat. Pada waktu makan siang,
orang-orang Timur cenderung bergerombol dengan
orang-orang Timur, dan orang-orang Barat cenderung bergerombol dengan orang-orang Barat. Maka kantin pun, sebagai tempat makan
bersama antara mahasiswa-mahasiswa Barat dan Timur merepresentasikan sebuah simbol,
bahwa dunia Timur dan dunia Barat sukar
dipersatukan.
Sekarang, tengoklah kehidupan
Robinson Crusoe, sebagaimana dituturkan oleh Daniel Defoe (1659—1731) dalam novel Robinson
Crusoe (1719) versi asli, bukan versi yang sudah berkali-kali diterbitkan dalam
buku-buku simplified atau abridged, dan bukan pula versi berbagai film
berdasarkan novel aslinya. Robinson Crusoe adalah seorang petualang
ulung, dan telah berkali-kali berlayar dengan kapal-kapal
besar ke berbagai bagian dunia, tapi, karena semangat
petualangannya tidak pernah bisa dibendung, akhirnya dia berpetualang lagi ke
kawasan-kawasan yang belum pernah dia tengok sebelumnya. Ketika kapalnya mendekati sebuah pantai di sebuah pulau
yang tidak pernah ditengoknya, badai pun
menyerang kapalnya, dan pecahlah kapal itu. Semua penumpang tewas, dan Robinson
Crusoelah satu-satunya penumpang yang bisa selamat. Dia terlempar ke pantai,
dan setelah beberapa hari tertengkurap di pantai, akhirnya dia pun berhasil
bangkit kembali. Terpaksalah dia hidup sendirian, tanpa apa-apa, dan
tanpa teman.
Terceritalah, pada suatu hari, ketika Robinson
Crosoe sedang berjalan-jalan, dia melihat semak-semak di
sebelah sana bergerak-gerak. Ternyata, di balik semak-semak itu ada manusia
yang tidak sama dengaan Robinson Crusoe: Robinson Crusoe berkulit putih atau, menurut istilah populernya bule (white), sedangkan manusia itu
berkulit berwarna (colored) seperti layaknya orang-orang non-Eropa.
Begitu melihat manusia berkulit berwarna ini, dengan
serta merta Robinson Crusoe berkata dalam hati:
"Aku akan jadikan manusia ini sebagai budakku. Dengan menjadikan dia
budakku, aku bisa mendidiknya menjadi manusia yang lebih beradab. Karena
kebetulan hari ini Jum'at, budak ini akan saya
namakan Jum'at." Sementara itu, begitu melihat orang kulit putih bernama Robinson Crusoe, dengan serta merta pula manusia berkulit
berwarna ini berkata dalam hati: "Aku sangat
beruntung, hari ini dapat berjumpa dengan seorang Tuan. Akan aku hambakan
diriku kepada Tuan ini. Semua perintah Tuanku akan aku laksanakan dengan penuh
takzim."
Inilah perbedaan sikap mental orang
Barat, dan ini pulalah sikap mental orang Timur. Ingat, Robinson Crusoe hanyalah sebuah tokoh fiksi dalam sebuah novel, dan
karena itu, dalam realita sebetulnya tldak ada. Tapi, ingat pulalah,
sebagaimana novel E.M. Forster A Passage
to India, Robinson Crusoe dan
Jum'at pada dasarnya merupakan representasi dari realita yang sebenarnya: kalau tidak ada sikap mental rendah diri, mana
mungkin dengan "mudahnya"
orang-orang kulit putih dapat menguasai sebagian besar negara di Asia dan
sebagian besar negara di Afrika? Ingat pulatah, bahwa penjajahan orang-orang
kulit putih terhadap orang-orang Asia bukan hanya berlangsung selama puluhan
tahu, tapi, selama ratusan tahun.
Memang benar orang-orang kulit putih mengalahkan orang-orang kulit berwarna di Asia dan di Afrika dengan kekuatan
senjata, tapi pada hakikatnya persoalan sebenarnya tidak di sini.
Persoalan yang sebenarnya adalah sikap mental: orang-orang kulit
putih ingin mendominasi orang-orang kulit berwarna, dan
orang-orang kulit berwarna mengagung-agungkan orang-orang kulit putih.
Perlu diketahui pula, bahwa Robinson
Crusoe adalah orang Inggris, dan dalam sejarah kolonialisme, bangsa Inggris
telah menunjukkan kemampuannya sebagai rajanya penjajah. Wilayah jajahan Inggris paling luas disbanding wilayah jajahan
bangsa-bangsa Eropa lain, dan bahasa Inggris tidak lain adalah bahasa
internasional, dan derajatnya lebih tinggi
dibanding dengan bahasa bangsa-bangsa penjajah lain. Dampak penjajahan Inggris pun,
di antara dampak penjajah-penjajah lain, juga paling kompleks.
Mimicry
Negara-negara jajahan, baik di Asia maupun di Afrika
sudah lama merdeka, dan karena itu,
bangsa-bangsa jajahan dahulu sekarang sudah menjadi bangsa-bangsa merdeka, dengan
pemerintahannya sendiri, undang-undang dasarnya sendiri, dan segala sesuatunya
yang serba sendiri pula. Indonesia, sementara itu, bisa berbangga, karena
berbeda dengan bangsa-bangsa lain bekas
jajahan, kemerdekaan bagi Indonesia diperoleh melalui revolusi dan perang kemerdekaan, sedangkan bangsa-bangsa
bekas jajahan memperoleh kemerdekaan
karena diberi kemerdekaan oleh bekas penjajahnya.
Namun, benarkah sebagian
bangsa-bangsa bekas jajahan itu sudah benar-benar merdeka?
Untuk menjawab pertanyaan ini, tengoklah ejaan sebuah disiplin ilmu perihal berakhirnya penjajahan geografi yang diikuti oleh kemerdekaan formal
bangsa-bangsa bekas jajahan. Disiplin ilmu ini dinamakan
"post-colonial studies," atau "post/colonial studies," atau "postcolonial studies." Nama disiplin ilmu ini member kesan,
bahwa antara jaman penjajahan pada jaman dahulu dan
jaman kemerdekaan setelah masa penjajahan berlalu seolah-olah sama, seolah-olah identik, dan karena itu seolah-olah tidak ada
perbedaaannya. Mengapakah nama disiplin ilmu pada waktu penjajahan masih
berlangsung tidak dinamakan "colonial
studies," dan mengapa disiplin ilmu mengenai masa setelah kemerdekaan
tidak dinamakan "postcolonial studies"?
Seorang pakar dari India, Homi
Bhabha namanya, mempunyai jawabannya mengenai sikap mental
bangsa-bangsa Asia pada umumnya, dan seorang pakar berkulit hitam, Frantz Fanon namanya, mempunyai jawaban pula mengenai
sikap mental bangsa-bangsa Afrika pada umumnya terhadap bangsa-bangsa
bekas penjajah. Salah satu kunci di antara kunci-kunci jawaban iain dinamakan mimicry (sikap meniru-niru) oleh
Homi Bhabha, dan jawaban Frantz
Fanon dirangkum dalam buku BlackSkin, White Masks (Kulit Hitam Topeng
Putih).
Tengoklah perempuan-perempuan cantik dan kaya yang banyak
bergentayangan di mall-mall besar, lalu
tengoklah rambut mereka, dan tengok pulalah kulit mereka. Rambut mereka dicat blonde, agar tampak seperti
rambut orang bule, dan kulit mereka diolesi white cleansing agar tampak
seperti kulit orang bule. Lalu tengok pulalah sinetron-sinetron kita: mayoritas actor dan aktresnya berkulit putih,
sebab, kalau mereka berkulit sawo matang, dijamin sinetron mereka tidak akan
laku. Mengapa? Karena kita pada umumnya tertimpa oleh penyakit mimicry, yaitu meniru-nirukan orang-orang kulit
putih, karena kita, secara tidak langsung dan tidak sadar, mengakui
bahwa orang-orang kulit putih lebi hebat daripada orang-orang kita sendiri. Sikap mental kita, pada hakikatnya, masih
sama dengan dulu, yaitu sikap mental
bangsa jajahan.
Di Afrika, sebagaimana dinyatakan
oleh Frantz Fanon dan juga dalam karya Chinua Achebe, Things Fall Apart, disusul oleh A/o Longer at Ease, dan
diakhiri dengan The Arrow of God, sikap mental
bangsa-bangsa bekas jajahan pada umumnya di Afrika mirip dengan bangsa-bangsa
bekas jajahan di Asia pada umumnya: kulit mereka tetap hitam (black skin), tapi mereka ibaratnya memakai topeng-topeng putih (white
masks), sebagaimana yang tercermin dalam perilaku mereka yang
ke-Barat-Barat-an.
Sebagaimana digambarkan oleh Chinua Achebe dalam triloginya, Things Fall
Apart, No Longer at Ease, dan The Arrow ofGod, setelah masa
kemerdekaan tiba, banyak pemuda-pemuda
Afrika diberi kesempatan untuk melanjutkan studi di luar negeri. Apa perbuatan mereka
setelah kembali? Berlagak sebagai orang-orang Barat, dan, akhirnya, korupsi.
Hobi sebagian orang-orang terpelajar kita,
kecuali berlagak ke-Barat-Barat-an, tidak lain adalah korupsi pula.
Ketergantungan bangsa-bangsa bekas jajahan bukan
hanya dalam sikap meniru saja, tapi juga ketergantungan
.dalam politik, ekonomi, dan dan kebudayaan. Kendati sudah melepaskan diri dari IMF, pada hakikatnya ekonomi kita masih banyak
tergantung pada Barat. Pertamina hanya menggarap
sekitar 14 % dari seluruh minyak yang dikeduk dari perut bumi Indonesia,
selebihnya dikeduk oleh perusahaan-perusahaan asing. Berbagai tambang selain minyak di Indonesia yang masuk ke kas
negara hanya sekitar 7 %, selebihnya masuk ke kas perusahaan-perusahaan
asing pula (diskusi interaktif Radio El-Shinta, 12 Februari, 2012).
Politik kita pada hakikatnya juga
masih berkibiat ke Barat, antara lain dalam system demokrasinya. Jatuh bangunnya pimpinan suatu negara sering tidak lepas pula
dari campur-tangan negara-negara bekas penjajah. Sistem pendidikan kita, yaitu
penjenjangan D(iploma), S(trata) 1, S2, dan S3
pada hakikatnya merupakan adopsi dari sistem pendidikan barat.
| foto BERSAMA guru besar unesa Prof Dr Budi Dharma Ph.D dan sekretaris jurusan pgsd Drs Supriyono MM |
| Foto BERSAMA Sujiwo Tejo Budayawan dan sekretaris jurusan pgsd Drs Supriyono MM |
| Foto BERSAMA Sujiwo Tejo Budayawan |

